Over Hal tersebut mengakibatkan populasi ikan mengalami penurunan

Over
Fishing dan Utang Ekologis yang Belum Tuntas

 

Lingkungan dunia saat
ini tengah menghadapi banyak isu kompleks, mulai dari masalah polusi, perubahan
iklim, krisis makanan, over population,
hingga over fishing. Secara sederhana,
over fishing dapat diartikan sebagai
kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem.
Over fishing atau penangkapan ikan
berlebih merupakan bentuk eksploitasi berlebihan terhadap populasi ikan. Over
fishing adalah salah satu isu lingkungan yang yang kurang diperhatikan oleh
dunia. Hal tersebut disebabkan oleh jarangnya masyarakat umum mendengar tentang
isu ini. Selain itu, jumlah stok ikan di pasaran yang terlihat melimpah ruah menciptakan
pola pikir di masyarakat yang membuat mereka menganggap bahwa masalah over
fishing bukanlah masalah yang serius. Isu mengenai over fishing memang kalah
populer di kalangan masyarakat jika dibandingkan dengan isu lingkungan lainnya
seperti pemanasan global atau yang lainnya. Namun jika ditelusuri lebih jauh
mengenai dampak dan hubungannya dengan masa yang akan datang, sesungguhnya isu
over fishing ini adalah masalah besar yang dapat merambat dan berdampak ke
isu-isu lainnya, mulai dari krisis makanan hingga penurunan populasi manusia.

Jika berbicara tentang
isu over fishing, maka poin
terpenting yang menjadi kata kunci dalam kasus ini tentu saja adalah
penangkapan ikan. Penangkapan ikan sesungguhnya bukanlah sebuah masalah. Sejak
zaman dahulu, aktivitas penangkapan ikan telah menjadi budaya maritim dari
manusia di bumi sebagai penghuni planet yang lebih dari 70 persennya ditutupi
oleh air, dimana 97% dari air tersebut adalah air asin di samudera yang menjadi
rumah bagi populasi makhluk laut terutama ikan. Secara naluriah, penangkapan
ikan mulanya dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan pangannya, dan seiring
berkembangnya zaman, penangkapan ikan juga mulai dilakukan dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun pada perkembangan selanjutnya, penangkapan
ikan mulai berevolusi menjadi masalah ketika kegiatan tersebut dilakukan secara
berlebihan (over).

Perkembangan industri
perikanan yang makin besar di masa sekarang membuat kondisi perikanan dunia
menjadi tidak seimbang dan unsustainable
(tidak berkelanjutan). Berdasarkan laporan FAO (Food and Agriculture Organization of United Nations), telah terjadi
peningkatan terhadap besarnya jumlah ikan yang ditangkap untuk dijadikan stok
ikan secara global dari kurun waktu 1950-an hingga tahun 2000. Hal tersebut
mengakibatkan populasi ikan mengalami penurunan yang besar hingga lebih dari
setengahnya. Akibatnya, dari tahun 2000 ke atas, jumlah ikan yang ditangkap dari
berbagai tempat di seluruh dunia mulai mengalami penurunan, meskipun di
beberapa tempat ada yang masih stabil. Bahkan ada pula industri perikanan yang collapsed atau mengalami kebangkrutan akibat
sekitar 75% ikan di wilayah lautnya telah tereksploitasi secara berlebihan,
contohnya yaitu kasus yang terjadi pada Grand
Bank Cod Fisheries di Kanada.

Ikan kod adalah salah
satu jenis ikan laut favorit yang populasinya telah menurun drastis, khususnya
di area laut atlantik. Selain ikan kod tadi, ikan tuna, hiu serta mamalia laut
seperti paus adalah contoh organisme lain yang populasinya juga telah sangat
turun. Perburuan terhadap ikan-ikan ini tidak hanya dengan tujuan untuk
dikonsumsi saja, melainkan juga untuk tujuan hiburan, seperti untuk taman
wisata laut. Namun penurunan yang paling besar terjadi pada stok ikan komersial
yang menjadi makanan populer masyarakat pada umumnya, seperti ikan makerel dan
tuna.

Hampir semua orang
senang mengonsumsi ikan. Ikan adalah sumber protein terbaik dan juga makanan
yang sangat sehat dinilai dari kandungan nutrisinya. Dan laut, tentu saja
adalah sumber ikan terbaik dan terbesar yang ada di bumi. Hingga beberapa
dekade yang lalu laut di bumi dipenuhi oleh berbagai jenis ikan, berbeda dengan
kondisi laut di zaman sekarang yang semakin sedikit jumlah dan jenis ikannya. Hal
tersebut tentu saja terjadi karena adanya faktor-faktor penyebab, baik faktor alamiah
yang berasal dari lingkungan laut itu sendiri ataupun faktor non alamiah yang
disebabkan oleh perbuatan manusia.

Untuk mencari tahu akar
penyebab dari masalah terkait over fishing, tentu saja harus dilakukan
penelusuran terhadap food chain
(rantai makanan) di ekosistem laut. Pada rantai makanan di ekosistem laut,
ikan-ikan dan mamalia laut besar atau predator buas seperti paus, hiu, ikan pari
dan lain sebagainya biasanya berada di puncak rantai makanan sebagai konsumen kuarter.
Ikan-ikan berukuran sedang seperti tuna, ikan kod, atau salmon menjadi konsumen
tersier yang memangsa konsumen primer berupa ikan-ikan atau organisme lainnya
yang berukuran lebih kecil seperti sarden, teri atau udang. Dibawahnya terdapat
zooplankton seperti moluska, serangga
dan beberapa jenis ikan kecil yang berperan sebagi konsumen primer, sedangkan phytoplankton yang memperoleh energi
dari sinar matahari, berfungsi sebagai produsen yang menjadi sumber energi
terbesar bagi organisme-organisme laut. Selain organisme-organisme laut di atas,
terdapat pula dekomposer yang menguraikan sisa-sisa organisme laut yang telah
mati menjadi ukuran yang lebih kecil agar dapat dimanfaatkan juga oleh phytoplankton. Disamping itu, jangan
lupakan posisi manusia yang secara tidak langsung berada di tingkat teratas pada
rantai makanan ekosistem laut sebagai konsumen tingkat tertinggi.

Berdasarkan hubungan
makan memakan pada rantai makanan di ekosistem laut yang dijelaskan di atas,
dapat dilihat hubungan antara masing-masing organisme laut yang saling
mempengaruhi satu sama lainnya. Ikan-ikan kecil dan sedang yang sering dikonsumsi
manusia seperti ikan sarden, makerel, tuna, dan teri adalah target utama dalam
penangkapan ikan secara besar-besaran. Selain itu, beberapa aktivitas
penangkapan ikan yang dilakukan dengan alat yang tidak tepat mengakibatkan
banyak ikan-ikan kecil yang belum dewasa ikut tertangkap. Penangkapan yang
dilakukan secara berlebihan terhadap jenis-jenis ikan tersebut dapat mengurangi
jumlah populasinya secara drastis. Penurunan populasi ini dapat mempengaruhi
populasi organisme laut lainnya. Tertangkapnya ikan yang masih kecil ini akan
mengurangi jumlah ikan tersebut selaku calon ikan dewasa yang kelak akan
menjadi induk dari ikan-ikan selanjutnya, sehingga menyebabkan terganggunya
proses regenerasi dari populasi ikan tersebut, yang juga akanyurut mempengaruhi
populasi organisme laut lainnya.

 

Sebagai contoh,
penurunan populasi tuna akan mengakibatkan ikan-ikan kecil yang menjadi makanan
ikan tuna bertambah populasinya akibat kehilangan pemangsanya, dan para
predator seperti hiu kekurangan makanan. Para predator yang kekurangan makanan
ini lama kelamaan juga akan ikut berkurang jumlahnya karena kematian akibat
kelaparan. Selain itu ikan-ikan kecil mangsa para tuna juga akan ikut dimangsa
oleh para predator sebagai pengganti populasi ikan tuna tadi. Berkurangnya jumlah
ikan kecil, sedang, dan besar ini akan mempengaruhi jumlah organisme laut yang
akan mati dan diuraikan oleh dekomposer. Jumlah phytoplankton dan zooplankton
akan meningkat karena berkurangnya populasi ikan, baik itu ikan berukuran besar
maupun yang berukuran kecil.

 

Jika dibandingkan dengan
jenis ikan berukuran sedang seperti tuna, ikan kecil-kecil yang berada di dekat
dasar rantai makanan memang kurang diperhatikan perannya, namun sesungguhnya keberadaan
mereka sangat vital bagi ekosistem laut. Spesies-spesies ikan atau organisme
laut berukuran kecil lainnya seperti teri, sarden dan udang akan mengonsumsi
plankton dan menjadi sumber makanan bagi ikan atau mamalia laut yang lebih
besar, yang pada umumnya juga dikonsumsi oleh manusia. Namun di zaman sekarang,

Berkurangnya populasi
ikan di laut juga akan mengurangi jumlah tangkapan ikan manusia, sehingga jika
hal ini terus berlanjut dikhawatirkan suatu saat nanti akan terjadi seafood crisis, dan para manusia di masa
depan kemungkinan tak akan bisa lagi menyantap ikan atau hidangan laut lainnya.

Tentu saja manusia
menjadi pemeran utama yang menjadi kunci dari faktor-faktor penyebab terjadinya
kasus over fishing ini. Selain manusia,
kemajuan teknologi dan ketidakpastian hukum, serta kepentingan komersial di
industri perikanan adalah faktor-faktor utama penyebab terjadinya evolusi pada
budaya penangkapan ikan yang berujung pada eksploitasi populasi ikan secara
besar-besaran.

 

 

 

Di Indonesia sendiri over fishing menjadi sebuah masalah
kemaritiman yang merembes dan menjadi sumber dari masalah-masalah perikanan dan
kelautan lainnya seperti illegal fishing,
unreported and unregulated fishing, hingga illegal transhipment dan destructive
fishing.